Fashalli li Rabbika wanhar !

Fashalli li Rabbika wanhar !

oleh : Ust. Abu Mushlih Ari Wahyudi

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (QS. Al Kautsar : 2) Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan kurban pada saat setelah shalat Ied Dalam istilah ilmu fiqih hewan kurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis). Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut.

Dalil Pensyariatan kurban
Dalil dari Al Qur’an adalah ayat di atas. Dalil dari As Sunnah adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Anas mengatakan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih kurban berupa dua ekor domba besar putih bercorak hitam dan bertanduk. Beliau menyembelih keduanya dengan tangannya sendiri. Beliau membaca bismillah, bertakbir dan meletakkan kedua belah kakinya di atas bagian leher domba-domba tersebut.” (HR. Bukhari dan Muslim) Dan kaum muslimin pun telah ijma’ (sepakat) tentang disyari’atkannya kurban.

Keutamaan kurban
Menyembelih kurban termasuk amal salih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu‘anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah daripada mengalirkan darah (kurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih)

Hikmah kurban
Hikmah yang tersimpan di dalam ibadah ini antara lain ialah mendekatkan diri kepada Allah ta’ala dengan cara mengalirkan darah binatang. Hal ini disebabkan berkurban termasuk ketaatan dan ibadah yang paling agung di dalam ajaran Islam. Selain itu kaum fakir miskin akan merasa senang karena bisa menikmati daging hewan kurban yang dibagikan kepada mereka. Dan juga dalam rangka bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya. Dan juga dalam rangka meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang merelakan puteranya untuk disembelih demi mentaati dan mengharapkan ridha Allah, meski akhirnya tidak jadi. Dan hikmah lainnya yang hanya diketahui Allah secara keseluruhannya

Hukum berkurban
Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat :
Pendapat pertama : Wajib bagi orang yang berkelapangan. Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berkurban maka janganlah sekali-kali dia mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah)

Sedangkan pendapat kedua menyatakan hukumnya Sunnah Mu’akkadah. Pendapat yang dikuatkan oleh penyusun Shahih Fiqih Sunnah adalah hukumnya Sunnah sebagaimana dipegang oleh Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya pada tahun ini aku tidak akan berkurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira kurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih)

Hewan yang disembelih
Hewan kurban hanya boleh dari jenis Al An’aam (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing. Dalilnya adalah firman Allah yang artinya, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berkurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (QS. Al Hajj : 34)

Seekor kambing untuk satu rumah
Seekor kambing sudah cukup untuk kurban sebuah keluarga (serumah). Hal ini berdasarkan hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, ”Dahulu pada masa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam ada seorang lelaki (suami) yang menyembelih seekor kambing untuk kurban bagi dirinya sendiri dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih)

Ketentuan untuk sapi dan onta
Seekor Sapi dijadikan kurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu beliau mengatakan, ”Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang dalam berkurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.”(HR. Ibnu Majah, Tirmidzi dan Nasa’i. Shahih Sunan Ibnu Majah) Akan tetapi tentang keabsahan berkurban seekor onta untuk 10 orang para ulama berselisih. Sebab dalam riwayat lain disebutkan seekor onta untuk bertujuh. Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhu berkata, ”Kami menyembelih kurban bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pada tahun perjanjian Hudaibiyah. Seekor onta untuk bertujuh dan seekor sapi untuk bertujuh.” (HR. Muslim) Dan pendapat terakhir inilah yang dipilih oleh para ulama seperti Syaikh Abdullah Al Bassaam dan Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Umur hewan kurban
Untuk onta dan sapi : Jabir meriwayatkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (kurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih) Musinnah dari jenis onta adalah onta yang genap berumur 5 tahun dan memasuki tahun keenam. Sedangkan dari jenis sapi adalah sapi yang genap berumur 2 tahun dan memasuki tahun ketiga. Oleh sebab itu kurban dengan sapi atau onta tidak sah apabila umurnya kurang dari ketentuan tersebut. Sedangkan untuk domba harus sudah berumur setahun dan memasuki tahun kedua (kambing Dha’n). Namun apabila kambing seperti itu susah diperoleh maka diperbolehkan untuk berkurban dengan domba Jadza’ah yaitu yang sudah berumur 6 bulan. Adapun untuk kambing kacang/kambing lokal (Ma’z) maka harus sudah berumur setahun. Para ulama sepakat tidak boleh berkurban dengan kambing lokal yang masih berumur 6 bulan

Hewan yang tidak sah untuk dikurbankan
Tidak boleh berkurban dengan hewan yang sangat lemah/kurus sekali, menderita penyakit, pincang atau buta sebelah. Hal ini berdasarkan hadits Barra’ bin ’Azib radhiyallahu’anhu yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Ada empat macam hewan yang tidak boleh digunakan untuk kurban, yaitu : (1) hewan yang buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, (2) hewan yang sakit dan tampak sekali sakitnya, (3) hewan yang pincang dan tampak jelas kepincangannya dan (4) hewan yang sangat kurus sampai-sampai tidak punya sumsum tulang.” (HR. Ashabus Sunan dengan sanad sahih). Orang yang berkurban dengan hewan-hewan semacam itu maka kurbannya tidak sah.

Hewan yang makruh untuk dikurbankan
(1) Hewan yang telinganya terpotong sebagian atau keseluruhan, (2) Hewan yang tanduknya pecah atau patah. Adapun hewan yang tidak bergigi (ompong), tidak berekor, tidak berhidung maka cacat semacam itu tidak mengapa karena tidak ada larangannya dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga hal itu tidak sampai menghilangkan status keabsahannya sebagai hewan kurban

Hewan yang disukai dan lebih utama untuk dikurbankan
Hendaknya hewan yang dikurbankan adalah hewan yang gemuk dan sempurna. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, ”Yang demikian itu karena barangsiapa yang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj : 32) Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i rahimahullah menyatakan bahwa orang yang berkurban disunnahkan untuk memilih hewan kurban yang besar dan gemuk. Diantara ketiga jenis hewan kurban maka menurut mayoritas ulama yang paling utama adalah berkurban dengan onta, kemudian sapi kemudian kambing.

Larangan bagi yang hendak berkurban
Orang yang hendak berkurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya. Dari Ummu Salamah dari Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam beliau bersabda, ”Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Dzulhijjah) sedangkan salah satu diantara kalian ingin berkurban maka janganlah dia memotong sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim) Yang dimaksud dengan larangan memotong kuku adalah memotong kuku dengan cara apapun. Dan yang dimaksud larangan mencabut rambut mencakup juga mencukur gundul atau sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala, kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (lihat Shahih Fiqih Sunnah) Adapun anggapan kalau yang tidak boleh dipotong adalah kuku hewan kurban, maka itu adalah pendapat salah dan tidak ada seorang ulama yang berpendapat seperti itu.

Waktu penyembelihan
Waktu penyembelihan kurban adalah pada hari Iedul Adha dan 3 hari sesudahnya (hari tasyriq). Hal ini berdasarkan hadits sahih, Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Setiap hari taysriq adalah (hari) untuk menyembelih (kurban).” (HR. Ahmad dan Baihaqi) Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan kurban). Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah shalat itu maka kurbannya sempurna dan dia telah sesuai dengan sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tempat penyembelihan
Sesudah shalat Ied ditunaikan maka orang yang berkurban disyari’atkan untuk menyembelih kurban di tempat manapun yang disukainya, baik di rumahnya sendiri ataupun di tempat lain. Sebagaimana halnya disyariatkan pula untuk melakukan penyembelihan di tanah lapang tempat shalat Ied. Dan disunnahkan bagi imam/penguasa supaya menyembelih kurban di tanah lapang. Ibnu ’Umar mengatakan, ”Dahulu Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam biasa menyembelih kambing dan onta (kurban) di tanah lapang.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibnu Majah, sahih)

Penyembelih kurban
Orang yang berkurban boleh menyembelih hewan kurbannya sendiri atau mewakilkannya kepada orang lain. Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib di dalam Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat kurban Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah menyembelih onta kurbannya dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali untuk disembelih. Namun yang lebih baik adalah menyembelih sendiri karena hal itu disunnahkan.

Tata cara penyembelihan
Hendaknya memakai alat yang tajam untuk menyembelihnya. Hewan yang akan disembelih dibaringkan di atas lambung kirinya dan dihadapkan ke kiblat. Kemudian mengayunkan pisaunya kuat-kuat supaya cepat putus. Dan ketika akan menyembelih membaca, “Bismillaahi Allaahu akbar, hadza minka wa laka.” (HR. Abu Dawud) Atau mengucapkan, “Bismillaahi Allaahu akbar, hadza minka wa laka ’anni atau ’an fulan (disebutkan nama shahibul qurban).” Dan berdoa agar Allah menerima kurbannya dengan doa, ”Allahumma taqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban)”

Pemanfaatan hasil sembelihan
Disunnahkan bagi orang yang berkurban untuk memakan sebagian daging sembelihan tersebut, bersedekah dengannya kepada orang-orang miskin dan menyimpan dagingnya untuk dirinya sendiri. Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Larangan memperjual-belikan hasil sembelihan
Adapun memperjual-belikan hasil sembelihan, baik yang berupa daging, kulit, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya maka hal itu tidak diperbolehkan. Dasarnya adalah hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu. Beliau mengatakan, ”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta kurbannya. Beliau juga memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan saya juga tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Larangan mengupah jagal dari hasil sembelihan
Dalilnya adalah sebuah riwayat hadits dari ’Ali yang mengatakan bahwa ”Beliau pernah diperintahkan Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam untuk mengurusi penyembelihan ontanya dan agar membagikan seluruh bagian dari sembelihan onta tersebut, baik yang berupa daging, kulit tubuh maupun kulit yang menutupi punggungnya. Dan dia tidak boleh memberikannya kepada jagal barang sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan dalam lafaz lainnya beliau berkata, ”Kami akan mengupahnya dari harta kami sendiri.” (HR. Muslim) Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai hadiah untuk jagal itu kalau dia termasuk orang kaya dan sebagai sedekah untuknya apabila ternyata dia adalah miskin

Pemindahan hewan kurban ke daerah lain
Pada asalnya tempat menyembelih kurban adalah negeri orang yang berkurban. Meskipun demikian maka tidak mengapa memindahkannya ke negeri lain apabila ada maslahat yang menuntutnya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad, serta seluruh pengikut beliau yang setia. Alhamdulillaahi Rabbil ’aalamiin [Ari Wahyudi]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: