Waktu untuk Memulai dan Mengakhiri I’tikaf

WAKTU MEMULAI DAN MENGAKHIRI I’TIKAAF

Oleh : Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

Waktu i’tikaaf sunnat adalah tidak terbatas. Maka, apabila seseorang telah masuk masjid dan berniat taqarrub kepada Allah dengan tinggal di dalam masjid beribadah beberapa saat, berarti ia beri’tikaaf sampai ia keluar.

Dan jika seseorang berniat hendak i’tikaaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, maka hendaklah ia mulai memasuki masjid sebelum matahari terbenam.

Pendapat yang menerangkan bahwa waktu dimulainya i’tikaaf adalah sebelum matahari terbenam pada tanggal 20 Ramadhan, yaitu pada malam ke 21, merupakan pendapat dari Imam Malik, Imam Hanafi, Imam asy-Syafi’i, dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya.

[Lihat Syarah Muslim VIII/68, Majmu’ Syarhul Muhadzdzab VI/492, Fathul Baary IV/277, al-Mughni IV/489-490 dan Bidayatul Mujtahid I/230.]

Dalil mereka ialah riwayat tentang i’tikaafnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal Ramadhan, pertengahan dan akhir Ramadhan:

“Artinya : Dari Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang hendak beri’tikaaf bersamaku, hendaklah ia melakukannya pada sepuluh malam terakhir (dari bulan Ramadhan)”.

[HSR. Al-Bukhari no. 2027.]

Maksud “sepuluh terakhir”, adalah nama bilangan malam, dan bermula pada malam kedua puluh satu atau malam kedua puluh.

[Lihat Fiqhus Sunnah I/403.]

Tentang hadits ‘Aisyah:

“Artinya : Dari ‘Aisyah Radhiyallahu anha, ia berkata: “Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak i’tikaaf, beliau shalat Shubuh dulu, kemudian masuk ke tempat i’tikaaf”

[HSR. Al-Bukhari no. 2033 dan Muslim no. 1173]

Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa permulaan dari waktu i’tikaaf itu adalah di permulaan siang. Ini menurut pendapat al-Auza’i, al Laits dan ats-Tsauri.

[Lihat Nailul Authar IV/296.]

Maksud dari hadits Aisyah di atas ialah, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam masuk ke tempat yang sudah disediakan untuk i’tikaaf di masjid setelah beliau selesai mengerjakan shalat Shubuh. Jadi, bukan masuk masjidnya ba’da Shubuh.

Adapun masuk ke masjid untuk i’tikaaf tetap di awal malam sebelum terbenamnya matahari. Wallaahu a’lam bish shawaab

[Lihat Fiqhus Sunnah I/403.]

Mengenai waktu keluar dari masjid setelah selesai menjalankan i’tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, menurut Imam Abu Hanifah dan Imam asy-Syafi’i waktunya adalah sesudah matahari terbenam (di akhir Ramadhan). Sedangkan menurut Imam Ahmad rahimahullah, ia disunnahkan untuk tinggal di masjid sampai waktu shalat ‘Idul Fitri. Jadi, keluar dari masjid ketika ia keluar menuju lapangan untuk mengerjakan shalat ‘Ied. Akan tetapi menurut mereka boleh pula keluar dari masjid setelah matahari terbenam.

[Lihat Bidaayatul Mujtahid (I/230) dan al-Mughni (IV/490).]

Jadi kesimpulannya, empat Imam telah sepakat bahwa waktu i’tikaaf berakhir dengan terbenamnya matahari di akhir Ramadhan.

Ibrahim an-Nakha’i berkata, “Mereka menganggap sunnah bermalam di masjid pada malam ‘Idul Fitri bagi orang yang beri’tikaaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, kemudian pagi harinya langsung pergi ke lapangan (untuk shalat Idul Fitri)”.

[Baca al-Mughni, IV/490-491.]

Dan orang yang bernadzar akan beri’tikaaf satu hari atau beberapa hari tertentu, atau bermaksud melaksanakan i’tikaaf sunnat, maka hendaklah ia memulai i’tikaafnya itu sebelum terbit fajar, dan keluar dari masjid bila matahari sudah terbenam, baik i’tikaaf itu di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya.

[Lihat Bidaayatul Mujtahid, I/230, al-Majmu’ Syarhul Muhadzdzab VI/494, Fiqhus Suunah I/403-404.]

Ibnu Hazm berkata, “Orang yang bernadzar hendak i’tikaaf satu malam atau beberapa malam tertentu, atau ia hendak melaksanakan i’tikaaf sunnat, maka hendaklah ia masuk ke masjid sebelum terbenam matahari, dan keluar dari masjid bila sudah terlihat terbitnya fajar. Sebabnya karena permulaan malam ialah saat yang mengiringi terbenamnya matahari, dan ia berakhir dengan terbitnya fajar. Sedangkan permulaan siang adalah waktu terbitnya fajar dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Dan seseorang tidak dibebani kewajiban melainkan menurut apa yang telah diikrarkan dan diniatkannya”.

[Lihat al-Muhalla V/198, masalah no. 636.]

[Disalin dari buku Itikaaf oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Abdullah, Cetakan Ramadhan 1425H/Oktober 2004M]

—————
copy dari : http://www.almanhaj.or.id/content/1640/slash/0

1 Komentar »

  1. aguestin said

    assalamu’alaikum…saya mau nanya… brarti kalau dimulai…sebelum terbenam fajar..hingga terbit matahari ndak bisa ya..? atau..setelah shalat tarawih..menetap dimasjid hingga terbit matahari juga ndak bisa ia..? soalnya kan kalau pagi hingga sore..bekerja…
    trimakasih sebelumnya tas jawabannya…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: