Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan

Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan

Oleh : Ustadz Abdullah Zaen, Lc.

Tamu agung itu beberapa hari lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya ? bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun kemaren masih berpuasa bersama kita, bertarawih dan beridul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang mereka telah berbaring di peristirahatan umum ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita ?

Dalam dua buah hadits, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kondisi dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan melewati bulan Ramadhan.

Golongan Pertama digambarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim )

Golongan Kedua digambarkan oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya, “Betapa banyak orang berpuasa yang hanya merasakan lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah, Al Hakim, dan beliau menshahihkannya. Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini hasan shahih )

Akan termasuk golongan manakah kita ? Hal itu tergantung dengan usaha kita dan taufiq dari Alloh ta’ala.
Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia.
Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan nikmatnya bulan suci ini. Diantara kiat-kiat tersebut adalah :

[ Kiat Pertama ] Bertawakkal kepada Allah Ta’ala
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufiq Allah ta’ala. Cara meraih semua itu adalah dengan bertawakkal kepada-Nya.”
Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf sebagaimana dikisahkan Mu’alla bin Al Fadhl bahwa mereka berdoa kepada Allah dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah.

Ibnu Taimiyah menambahkan bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan berbagai hal yang bersangkutan dengan sebelum beramal, kita beramal dan setelah beramal :

Adapun perkara yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakal kepada Allah dan semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya.

Ibnul Qayyim memaparkan, para ulama telah bersepakat bahwa salah satu indikasi taufiq Allah kepada hamba-Nya adalah pertolonganNya kepada hamba-Nya. Sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri.

Menghadirkan rasa tawakal kepada Allah adalah merupakan suatu hal yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini untuk menumbuhkan rasa lemah, tidak berdaya dan tidak akan mempu menunaikan ibadah dengan sempurna, melainkan semata dengan taufiq dari Alloh. Selanjutnya kita juga harus berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan supaya Allah membantu kita dalam beramal yang paling agung yang dapat mendatangkan taufiq dari Allah dalam menjalankan bulan Ramadhan.

Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Alloh ketika akan beramal karena kita adalah makhluk yang disifati Alloh ta’ala sebagai makhluk yang lemah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya) : “Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa 28 ). Jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada Nya, Dia akan memberi taufiq-Nya kepada kita.

Disaat mengerjakan amalan ibadah, point yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah Ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dua hal inilah yang merupakan syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Diantara firman Allah ta’ala ( yang artinya ) : “Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” ( QS. Al Bayyinah 5 ).
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada dari kami maka amalan itu akan tertolak.” (HR. Muslim).

Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istighfar atas kurang sempurnanya amal dan juga butuh untuk memperbanyak pujian kepada Allah yang telah memberinya taufiq sehingga bisa beramal. Apabila seorang hamba bisa mengkombinasikan antara hamdalah dan istighfar, maka dengan izin Allah ta’ala amalan tersebut akan diterima oleh-Nya.

Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun. Makhluk ini mulai menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan, “Hai fulan, kau telah berbuat begini dan begitu….Kau telah berpuasa Ramadhan…Kau telah shalat malam di bulan suci….Kau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…” Dan terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub ( sombong dan takjub kepada diri sendiri ) yang menghantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa rendah diri dan rasa tunduk kepada Allah ta’ala.

Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap ‘ujub ( bangga terhadap amalan yang dilakukan ) pasalnya, orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri serta silau dengan amalannya berarti dia telah menujukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri serta amalannya.

Hati-hati dengan tipu daya setan yang telah bersumpah ( yang artinya ) : “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan ( menghalang-halangi ) mereka ( para manusia ) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dan kanan dan kiri mereka.” ( QS. Al A’raf 16 -17 )

[ Kiat Kedua ] Bertaubat sebelum Ramadhan tiba

Banyak dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat, diantaranya firman Allah ta’ala ( yang artinya ), “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” ( QS. At Tahrim 8 ).

Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorangpun diantara kita yang terbebas dari berbagai macam dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Setiap keturunan adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah bertaubat.” ( HR. Tirmidzi dan isnadnya dihasankan oleh Salim Al Hilaly )

Dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufiq Allah sehingga dia tidak kuasa untuk beramal shalih, ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiat. Apabila ternyata hamba mau bertaubat kepada Allah ta’ala maka prahara itu akan sirna dan Allah akan menganugerahi taufiq lagi kepadanya.

Taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya hakikatnya adalah bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis dosa. An Nawasi dalam Riyadhus Shalihin menjabarkan bahwa taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi empat syarat, yaitu :

[1] Meninggalkan maksiat
[2] Menyesali kemaksiatan yang telah diperbuat
[3] Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya.
[4] Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka ia harus mengembalikan hak itu kepadanya atau memohon maaf darinya.

Ada suatu kesalahan yang harus diwaspadai. Sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja. Setelah bulan suci ini berlalu, dia kembali berbuat maksiat. Sebagaimana hal ini dapat kita lihat pada taubatnya para artis yang ramai-ramai berjilbab di bulan Ramadan, namun setelah itu kembali pamer aurat sehabis Idul Fitri.

Ini merupakan bentuk kejahilan. Seharusnya tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri dari maksiat, harus tetap menyala baik di dalam Ramadhan maupun di bulan-bulan sesudahnya.

[ Kiat Ketiga ] Membentengi Puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya

Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari factor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan, “Barangsiapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan bentuk puasanya dari makanan dan minuman.” (HR. Bukhari )

Jabir bin Abdullah menyampaikan petuahnya, Seandainya kamu berpuasa maka hendaklah pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamau sama.” ( Lihat Latha’if Al Ma’arif, Ibnu Rajab al Hambali, hal 292 ).

Orang yang menahan lisannya dari ghibah dan matanya dari memanang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadhan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi! Inilah realita mayoritas masyarakat, ketaatan yang bercampur kemaksiatan.

Umar bin Abdul Aziz pernah ditanya tentang pengertian taqwa, “Taqwa adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram”, jawab beliau. Para ulama menegaskan, “Inilah ketakwaan yang sejati. Adapun mencampuradukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, maka ini tidak masuk dalam bingkai taqwa, meski dibarengi dengan amalan-amalan sunnah.”

Oleh sebab itu, para ulama merasa heran terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tetapi teap gemar terhadap dosa.

Ibnu Rajab al Hambali bertutur, “Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal terlarang. Mengekang diri dari makanan, minuman, dan jima’. Ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita langgar baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci ini tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa ( menahan diri) dari hal-hal yang pada dasarnya dibolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang jaman seperti perbuatan ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain. Semua ini merontokkan pahala puasa.”

[ Kiat Keempat ] Memprioritaskan amalan yang wajib

Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan wajib. Karena amalan yang paling dicintai Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi, bahwa Allah ta’ala berfirman ( yang artinya ), Dan tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih aku cintai dari amalan-amalan yang Ku-wajibkan”. (HR. Bukhari ).

Diantara aktifitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah mendirikan shalat berjamaah lima waktu di masjid bagi kaum pria, berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Telah diuraikan dalam sebuah hadits, Barangsiapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjamaah dan sellau mendapatkan takbiratul ihram imam, maka akan dituliskan begainya dua jaminan surat kebebasan bebas dari apni neraka dan dari nifaq.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh syaikh al Albani ).

Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjamaah di masjid, serta berusaha sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung terhadap Allah.

[ Kiat Kelima ] Jadikan Ramadhan sebagai madrasah untuk melatih diri beraal shalih, yang terus dibudayakan setelah berlalunya bulan suci ini.

Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah selesai dari madrasah itu, kebiasaaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga menghadap Yang Maha Kuasa. Allah ta’ala memerintahkan : “Sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu ajal.” ( QS. Al Hijr : 99 ).

Tatkala Hasan al Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan, Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang mukmin melainkan ajalnya”.

Maka, jangan sampai amal ibadah kita berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjamaah di Masjid, shalat malam, memperbanyak membaca Al Quran, doa dan dzikir, rajin mendatangi majelis taklim dan gemar bershadaqah dibulan Ramadhan, mari terus kita budayakan di luar Ramadhan. “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu merekapun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut ? Dia pun menjawab, “Alangkah buruknya tingkah mereka, mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan.”

Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda terbesar adalah keberhasilan kita meraih lailatul qadar adalah berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan. Wallahu ta’ala a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wjma’in.

Diketik ulang dari : Buletin at Tauhid, 21 Sya’ban 1429 | 22 Agustus 2008
[ Tulisan tersebut adalah nasehat yang disampaikan oleh Syeikh Dr. Ibrahim Ar Ruhaili pada malam Jumat 27 Sya’ban 1423 di masjid Dzun Nurain Madinah, ditambah penjelasan-penjelasan lain dari penyusun ]

copas via akhsa.wordpress.com

2 Komentar »

  1. tak terasa ramadhan sebentar lagi…selamat menjalankan ibadah shaum di bulan ramadhan..semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT..aamiin

    salam kenal

  2. asep buldan said

    assalamualaikum…. ustad af1 izin mengcopy tulisannnya bwt mengisi sanlat

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: