Jangan Mencela Waktu

Jangan Mencela Waktu ( Masa )

“Aduh, sungguh sial hari ini!”. Demikian salah satu contoh perkataan yang dilontarkan oleh sebagian kaum muslimin saat ini. Apakah perkataan seperti ini diperbolehkan?!!

Para pembaca yang semoga dirahmati Alloh, pencelaan terhadap waktu seperti ini memang sudah terjadi sejak dulu. Sebagaimana yang dulu dilakukan oleh orang-orang jahiliyah kemudian pada saat ini banyak ditiru oleh orang-orang yang lemah imannya, orang-orang yang jahil dan tidak tahu hukum-hukum agama. Padahal sesungguhnya, waktu tidak dapat memberikan suatu manfaat atau menimpakan suatu kemudhorotan (bahaya). Akan tetapi waktu itu diatur dan dikendalikan. Dan perubahannya menjadi hari, pekan, bulan, dan tahun merupakan ketentuan dari Alloh Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Dengan demikian mencela waktu sama saja dengan mencela Yang Mengaturnya.

Jagalah Lisanmu !!
Ingatlah!! kebanyakan manusia terjerumus ke dalam neraka dengan kehinaan yang sangat hina (mereka tersungkur di atas anggota tubuh yang paling terhormat, yaitu wajahnya) dikarenakan perbuatan lisan mereka. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah (kebanyakan) manusia tersungkur ke dalam neraka di atas muka mereka melainkan akibat ganjaran atas (perkataan) lisan mereka.” (HR. Tirmidzi, dishohihkan Syaikh Al Albani di dalam Shohihul Jaami’).
Dan renungkanlah firman Alloh yang artinya, “(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. ” (QS. Qoof : 17-18)

Janganlah Mencela Waktu !!
Perhatikanlah perkataan orang-orang musyrik dalam firman Alloh yang artinya,”Dan mereka berkata,’Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita selain waktu,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (Al Jatsiyah : 24)

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata, “Alloh Ta’ala menginformasikan ucapan kelompok Ad-Dahriyyah dari kalangan orang kafir dan yang sefaham dengan mereka dari kalangan musyrikin Arob dalam mengingkari hari akhir. Mereka berkata,’Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup’, maksudnya adalah tidak ada kehidupan kecuali kehidupan dunia ini saja. Mati dan hidupnya suatu kaum itu hanya di kehidupan ini, tidak ada hari akhir dan kiamat. Dan perkataan seperti ini dikatakan oleh musyrikin Arob yang mengingkari hari akhir dan juga dikatakan oleh para filosof.” (Tafsirul Qur’anil ‘Azhiim)

Apa hubungan ayat ini dengan pencelaan terhadap waktu? Sulaiman bin ‘Abdillah berkata, “Sangat tampak, orang-orang musyrik itu menyandarkan kematian mereka kepada waktu padahal waktu tidak memiliki kekuasaan untuk itu. Ini sama saja dengan mencela waktu karena waktu dianggap mencelakakan mereka. Begitu juga orang-orang yang mencela waktu selain mereka. Dengan demikian orang yang mencela waktu sama dengan perbuatan orang-orang musyrik tersebut meskipun keyakinan mereka berbeda.” (Taisir Azizil Hamid fii Syarhil Kitabit Tauhid)

Dari Abu Huroiroh, Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Alloh berfirman,’Manusia menyakiti-Ku, mereka mencela waktu, Akulah (pengatur) waktu. Di tangan-Ku semua perkara. Aku membolak-balikkan malam dan siang'”. (HR. Muslim). Dan disebutkan dalam riwayat lain,”Jangan mencela waktu karena Aku adalah (pengatur) waktu”. Dan dalam riwayat lain juga,”Janganlah anak Adam mengatakan,’Aduh, waktu sial’. Karena aku adalah waktu. Aku mengutus malam dan siang. Jika Aku menghendaki aku akan menggenggam keduanya.”
Perlu diperhatikan bahwa perkataan, “Akulah waktu” dalam hadits Abu Huroiroh di atas terdapat kata yang dihapus yaitu, “Akulah (pembolak-balik) waktu.” Karena ditafsirkan dengan kelanjutan haditsnya,”Aku membolak-balikkan malam dan siang”. Sehingga Ad Dahr (waktu) bukanlah nama Alloh karena Allohlah yang membolak-balikkan waktu dan bukanlah waktu yang membolak-balikan dirinya sendiri.
Al Baghowi dalam Syarhus Sunnah mengatakan,”Makna hadits Abu Huroiroh adalah, orang-orang Arab dahulu terbiasa mencela waktu apabila mereka tertimpa musibah atau sesuatu yang dibenci dengan mengatakan,’Waktu-lah yang menimpakan bencana’. Maka apabila mereka menyandarkan musibah (kesulitan) yang menimpa mereka kepada waktu, berarti mereka telah mencaci pengatur waktu itu yang tentunya adalah Alloh ‘Azza wa Jalla. Karena pengatur urusan yang mereka laksanakan itu pada hakikatnya adalah Alloh. Oleh karena itu mereka dilarang mencela waktu.” (Fathul Majiid, Syaikh ‘Abdurrohman bin Hasan Alu Syaikh)

Bagaimana Hukum Mencela Waktu?
Syaikh Ibnu Utsaimin rohimahulloh merinci hal ini menjadi 3 bagian :
Pertama, apabila orang tersebut bermaksud menginformasikan saja bukan mencela, ini dibolehkan. Contohnya, ucapan,”Sungguh panas hari ini atau sungguh dingin hari ini” dan semisalnya. Karna amal itu tergantung dari niatnya. Contoh yang lain adalah ucapan Nabi Luth ‘alaihis salaam, “Ini adalah hari yang amat sulit” (QS. Hud : 77)

Kedua, apabila orang tersebut berkeyakinan bahwa waktu adalah pelakunya (yaitu waktu-lah yang membolak-balikkan perkara dari baik menjadi jelek). Maka perbuatan ini adalah syirik akbar karena dia telah meyakini adanya pencipta selain Alloh dan dia telah menyandarkan suatu kejadian kepada selain Alloh. Siapa yang meyakini adanya pencipta selain Alloh maka dia kafir sebagaimana orang yang berkeyakinan ada ilah (sesembahan) selain Alloh yang berhak untuk diibadahi.

Ketiga, apabila orang tersebut mencela waktu tanpa meyakini waktu tersebut sebagai pengatur tetapi Alloh-lah pengaturnya. Dia mencelanya karena waktu tersebut merupakan tempat terjadinya sesuatu yang dibenci. Maka perbuatan seperti ini adalah harom namun tidak sampai derajat syirik. Dan hal ini termasuk kebodohan pada akal dan kesesatan dalam agama karena pada hakikatnya pencelaan terhadap waktu kembali kepada Alloh -Maha Suci Alloh darinya-, karena Alloh Ta’ala yang mengatur waktu tersebut dan yang menginginkan kebaikan dan keburukan. Yang mengatur bukan waktu itu sendiri. Dan pencelaan ini tidak menyebabkan kekafiran karena tidak mencelanya secara langsung. (Al Qoulul Mufiid ‘ala Kitaabit Tauhid)

Tunduklah dengan Ketentuan Alloh!!
Syaikh ‘Abdur Rahman bin Naashir As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Pencelaan ini selain menunjukkan kekurangan dalam agama juga menunjukkan kedangkalan pada akal. Berbagai musibah malah akan semakin bertambah dan akan semakin parah. Dan akibat selanjutnya, pintu kesabaran yang wajib akan tertutup dan hal ini akan menafikan (meniadakan) tauhid.
Adapun orang mu’min, dia meyakini perubahan waktu itu terjadi karena ketentuan, taqdir, dan kebijaksanaan Alloh. Lantaran itu dia tidak mencela sesuatu yang tidak dicela oleh Alloh dan Rosul-nya. Justru dia ridho dengan pengaturan Alloh dan menerima ketetapan-Nya. Dengan demikian tauhid dan ketenangannya menjadi sempurna.” (Al Qoulus Sadiid fii Maqooshidit Tauhiid).

Mudah-mudahan Alloh memudahkan kita menjadi orang yang sabar dalam menghadapi taqdir-Nya dan selalu ridho dengan apa yang ditetapkan-Nya. [Abu Isma’il M. Abduh Tuasikal]

3 Komentar »

  1. canon 10d said

    makasih banyak atas ilmunya…sangat bermanfaat…salam hangat,,,

  2. Somma said

    alhamdulillah artikel -artikel yang bermanfaat ini dapat menjadi bahan pustaka di perpustakaan kami trim.

    • abu ahmas said

      mari ikuti kajiannya di masjid al hidayah perum.mranti Purworejo…

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: